Review – Blade Runner (1982)

4.5

Pada masa depan distopia gambaran Ridley Scott , manusia bisa menciptakan manusia namun tidak dengan haknya.

Blade Runner menghadapkan kita pada dilema moralitas tentang siapa sebenarnya yang jahat di film ini. Apakah mereka yang mencari keadilan ?, atau mereka yang mencoba menegakkan keamanan?. Lebih lagi, bagaimana jika dua-duanya membutuhkan nyawa sebagai penebusan ?.

Ridley Scott memberikan sesuatu yang menarik. Dirinya dan tim mengonsep tampilan dunia tahun 2019 pada tahun 1982 waktu itu. Dan konsepnya nyentrik; lingkungan surealis yang tampak selalu malam; berpendar lampu neon yang kuat namun tak cukup terang, iklan videotron besar di gedung gedung masa depan. Kadang background bangunannya terlihat gothic seperti film Batman-nya Tim Burton atau pada film Fritz Lang, Metropolis. Dan dibawah mobil-mobil terbang dengan tenaga, tampak dibawah kerumunan orang bergemuruh disela-sela warung tengah jalan, seperti tiada henti.

Disanalah New York sekitar 40 tahun mendatang saat itu dalam bayangan gila Scott; teknologi terarah pada sesuatu yang modern dalam setelan retrofit. Orang-orang bergumul sibuk di jalanan kotor, dan mereka mewakili gaya dan fesyen mereka sendiri, dari make-up hingga kostum. Suka atau tidak suka; desain produksi Scott telah menyita beberapa perhatian hingga kini.

Namun desain dekorasi itu masih terkesan kecil ketimbang besarnya bobot esensi ceritanya yang fokus pada konflik identitas dan hak hidup yang semarak dibenak manusia-manusia bio-teknik yang diujung tanduk dalam kemusnahan.

Umat manusia sudah dalam level kuasa dalam mencipta; binatang artifisial hingga desainer genetik, dan dititik kedigdayaan itu mereka menciptakan replikan, android komersil yang selama ini telah dijadikan buruh dalam misi-misi ekploitasi off-world.

Replikan berkembang dalam model-model, semakin kuat, umumnya memiliki kekuatan fisik dan atribut menonjol yang lebih kentara daripada manusia biasa. Namun bersamaan dengan pengembangannya, emosinya juga berkembang hingga dititik dimana perasaan mereka mulai merdeka. Replikan terbaru dengan merk Nexus 6 melancarkan gestur pemberontakan, dan akibat itu, mereka harus ‘dipensiunkan’.

Seorang pension polisi LAPD bernama Deckard (Harrison Ford) ditugaskan kembali sebagai seorang Blade Runner atau pembasmi replikan. Dirinya adalah satu terbaik yang mungkin masih tersisa, memburu beberapa koloni Nexus 6 yang kembali ke bumi untuk diusaikan.

‘Apa arti sesungguhnya menjadi manusia’ adalah intisari meng-global yang dapat kita pelajari di film ini. Ridley Scott memastikan ide yang mengkhawatirkan bilamana kecerdasan artifisial mulai mengenali batasannya dan mencoba keluar dari sana. Karakter antagonis justru hadir dan mengundang empati yang paling dalam; khususnya Roy Blatty (Rutger Hauer), salah satu Nexus paripurna yang bukan marah, tapi lebih kearah kecewa akibat usahanya dalam mengobati kelemahan sistem hidupnya sebagai replikan ternyata nihil. Ia hanya ingin hidup lama seperti manusia.

Deckard sendiri juga bergelut dengan perasaannya, ketika dirinya tak bisa mengelak hubungannya dengan salah satu replikan wanita milik Tyrell, Rachel yang bahkan tak mengenali bahwa dirinya adalah replikan, hingga titik dimana Deckard barangkali mendapati jati diri aslinya yang mungkin tidak terpikirkan dan mengejutkan bagi penonton.

Ridley Scott mengumpamakan bagaimana jadinya jika isu diskriminasi masih melekat hingga kehidupan serba berbeda dimasa mendatang. Ekspresi bahwa manusia masih banyak terjebak pada pendekatan kekerasan daripada rekonsiliasi yang damai. Blade Runner adalah film yang humanis, justru didemonstrasikan oleh robot-robot yang begitu mengasihi jenis-jenis mereka sendiri.

Walaupun terkesan lambat dan dipenuhi oleh momen-momen privat, suasana kejar-kejaran dalam cahaya redup dan tema tentang perburuan menegaskan Blade Runner sebagai pionir dalam subgenre yang nantinya akan semarak, Neo-Noir. Dan anehnya, perisa crime yang ditengarai adegan tembakan-tembakan krusial di film ini justru mengundang simpati; simpati, apakah perlu untuk merasa demikian?, lagi-lagi Blade Runner mempermainkanmu dengan ambiguitas moral.

Blade Runner berakhir tak bisa lebih pahit dan frustratif mengetahui bahwa, jangankan membunuh, dengan menyelamatkan nyawa seseorang-pun, masih belum cukup untuk menjadikanmu ‘manusia’.