Review – BlacKkKlansman (2018)

3.5


Dan walaupun ini adalah reka ulang peristiwa tahun 70-an, pesan satir filmnya dalam menyindir society dan budaya masih relevan hingga sekarang. Konsep supremasi kaum selalu menjadi bigotri.

Film dengan isu rasisme selalu bisa berbicara banyak, apalagi jika itu adalah real-life events dengan suguhan drama yang menggerakkan hati. Dan bagaimana fase-fase kehidupan yang tidak adil bagi saudara-saudara kulit hitam kita kini agaknya juga telah menemui jalan terang dalam mendapatkan atensi dunia.

Hollywood sepertinya sepakat, isu rasial adalah wejangan yang tidak berhenti di setiap pagelaran Oscar dan selalu menjadi bahan pembicaraan. Pada tahun ini, Black Panther, walaupun menuai kontroversi, hadir sebagai film superhero pertama yang menyandang Best Picture. Orang orang tak luput dengan fakta bahwa ini adalah film “hitam” juga.

Oke, Black Panther memang tidak mengangkat tentang isu rasial. Namun garis bawahnya, simpatisme dan honor kepada film yang menjual para aktor berkulit hitam kini meningkat, terlepas cerita seperti apakah yang dibawa filmnya. Terlepas dari apakah semua orang sepakat itu sangat bagus atau tidak.

Tapi sejenak kita akan kesampingkan Black Panther, dan membahas film “hitam” lainnya yang juga sama-sama hadir sebagai calon pemenang Best Picture, namun tanpa menyandang omongan miring dari publik. Karena benar, film satu ini, BlacKkKlansman mendapatkannya dengan alasan yang kuat: Sajian sosio-kultur-politik yang satir.

Kita memiliki sejarah yang mungkin telah tertulis lebih dari 1 abad di dunia ini, tentang diskriminasi orang kulit hitam. 12 Years A Slave memenangkan kompetisi Oscar lewat cerita pahitnya perbudakan, Hidden Figures sampai 42 yang menunjukkan bahwa orang kulit hitam juga andil krusial dalam perkembangan sejarah. Selma yang berbicara banyak tentang tokoh Martin Luther King dan tentu saja, Malcolm X yang menceritakan kisah dengan nama tokoh yang sama.

Semuanya komplit, film tentang diskriminasi orang kulit hitam seperti menjadi mode. Beberapanya terasa seperti kenangan masa lalu pahit, namun beberapanya terasa tak ketinggalan jaman karena tidak dapat dipungkiri, dunia modern-pun masih memiliki sisi rasisnya. Dan dengan demikian, aku memperkenalkan BlacKkKlansman sebagai sajian yang lengkap dengan menceritakan bagaimana isu diskriminasi dari masa lalu, masih membayangi hingga sekarang.

Spike Lee (sutradara) mengkisahkan tentang hidup Ron Stallworth, seorang polisi kulit hitam yang nantinya berhasil menggagalkan rencana jahat kelompok White Supremacist terkemuka bernama Ku Klux Klan.

Dan Lee menarasikan semuanya dalam nuansa humor. Seluruh misi berbahaya ini kerap menyuguhkan tawa di sela-selanya. Maksudku ketika Ron bersama tim kepolisian Collorado Springs melakukan inflitrasi riskan dengan cara yang amat kasual. Ia menggaet Flip Zimmerman (Adam Driver) untuk menggantikan dirinya ketika itu adalah jadwalnya ia menemui kelompok ekstremis kulit putih terkemuka itu. Dan Ron sendiri, dalam misi day-to-day nya, akan mencoba menggerus informasi dari Organisasi Mahasiswa Kulit Hitam di Colorado College.

Lee tak bisa menahan dirinya untuk menggodok filmnya dengan Lines yang rasis. Ketika Ron menelepon David Duke si petinggi Klan dan mereka berdua mulai menghina eksistensi orang-orang kulit hitam sejak itu, hingga Flip yang tampak lihai dalam memakai wajah palsunya saat dirinya harus terlihat anti-black ditengah-tengah kelompok penebar kebencian itu.

Seluruh aktivitas yang munafik ini, rasanya seperti menonton The Departed saja, namun kali ini kemanusiaan adalah tujuannya.

Narasi Lee berhasil menyulut semangat dan kebanggaan para penonton Afrika-Amerika dengan ini, namun juga menguatkan empati para kulit putih. Aku sangat menikmati bagaimana prinsip filmnya menjadikan orang-orang (kulit putih) Klan sebagai satu-satunya yang anti-hitam, alih-alih seluruh karakter kulit putih yang ada di filmnya. Itu terlihat bagaimana profesionalnya dapur kepolisian Colorado Springs yang membaur antara Ron dan yang lainnya. Setidaknya dengan ini, Lee mampu menyuarakan bahwa tidak seluruh orang kulit putih memiliki pemikiran yang homogen dan kepribadian yang memiliki prinsip toxic, atau dalam konteks ini, bersikap rasis misalnya.

Spike Lee dengan baik mengampanyekan isu sosial ini. Dan walaupun ini adalah reka ulang peristiwa tahun 70-an, pesan satir filmnya dalam menyindir society dan budaya masih relevan hingga sekarang. Konsep supremasi kaum selalu menjadi bigotri.

Engineering student but movies way more than manufactures