Review – Birds of Prey: And the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn (2020)

1.5

Laki-laki mendominasi kemudian tersungkur. Perempuan sengsara lalu berdiri melawan. Laki-laki harus kalah. Perempuan harus menang. Ini bukan emansipasi, ini penulisan yang putus asa.

Birds of Prey: And the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn (selanjutnya Birds of Prey) hanya menebalkan pernyataan bahwa beberapa dari kita betul-betul sudah capek dengan genre ini. Hanya bertujuan menghibur, namun cerita yang disampaikan tidak penting. Perasaan ini sama seperti menonton Suicide Squad, karena naskah Birds of Prey tampak bagaikan adaptasi satu chapter komik yang mungkin menarik, dan menjadikannya live action. Filmnya ada hanya untuk numpang lewat. Kualitas ceritanya hanya selevel dengan salah satu episode serial kartun-kartun DC di channel Cartoon Network. Dan kau tidak menonton mereka bukan ?.

Harley Quinn (Margot Robbie) sudah diputusin Joker. Tapi Quinn tidak bilang ke siapapun karena kalau saja orang-orang tahu, dia pasti sudah diburu begundal kriminal yang pernah dibuat Quinn kesal dahulu. Berpacaran dengan Joker memberikan imunitas bagi Quinn, dia tak tersentuh akibat nama cowok­nya, dan dengan itu, dia bebas mau melakukan apapun. Itu yang dia sukai, dan walaupun dia kehilangan Joker, dia tidak ingin kehilangan privilege itu.

Namun pada suatu malam, Quinn mendadak sentimentil setelah menguping omongan yang merendahkannya dalam hubungannya dengan Joker. Bersedih lalu meledakkan Ace Chemicals Plant milik eks pacarnya. Darisana, semua orang tahu bahwa Harley ternyata sudah berpisah dengan Joker.

Birds of Prey pada bagian awal dinarasikan non-linier dengan cara lompat kebelakang dan kembali lagi kedepan. Cathy Yan sang sutradara memang terampil disini, sepertinya ia ingin menjual kekerenan, kecuali bagi penonton-penonton yang tahu bahwa cara ini sudah cukup banyak dipakai. Pun perlompatan cerita ini cukup bikin repot karena membuat kita harus bingung dulu walaupun akhirnya mengerti juga.

Dan itu berimbas karena aku jadi kesulitan untuk mencoba mengingat filmnya, pokoknya setelah itu Quinn harus melalui berbagai macam kejadian yang membuatnya masuk dalam sekelumit permasalahan. Tentang kejar-kejaran yang membuat dia harus bekerja untuk Roman Sionis alias Black Mask (Ewan McGregor) mencari pencopet cilik bernama Cassandra Cain (Ella Jay Basco) yang telah mencuri berlian keluarga Bertinelli yang penuh nilai. Ditengah kejar-kejaran itu juga ada polisi wanita bernama Detektif Reene Montoya (Rosie Perez) yang mencoba mengamankan Cassandra dari tangkapan pihak Roman setelah ia secara rahasia dibimbing dan diberi petunjuk oleh bawahan Roman sendiri yang diam-diam berkhianat, adalah Dinah Lance alias Black Canary (Jumee Smollett-Bell).

Pe-er film ini juga sama dengan Suicide Squad di bagian penggambaran karakternya. Protagonis yang ada bertindak persis seperti yang kita harapkan. Hubungan antar mereka rumit tapi mendadak semuanya bersahabat dan satu misi. Motif mereka sangat lemah terhadap keputusan apa-apa yang hampir membunuh mereka. Kebutuhan plot filmnya terlalu kentara dalam menyetir tindakan tokoh-tokohnya. Dibelakang Harley Quinn, semuanya hanya berkesan sebagai karakter mainstream.

Lebih utama, Birds of Prey menurutku kurang sukses untuk menyampaikan maksudnya. Mau menganggap filmnya tidak serius dan mencoba tampil seperti Deadpool, tapi jokes-nya yang minim dan hambar sama sekali tidak menunjukkan keinginan kesana. Mau menganggap film ini sebagai pernyataan sosial, filmnya terlalu superfisial disana.

Birds of Prey seperti menyampaikan pesan semau-maunya mereka. Semua laki-laki adalah brengsek dan meremehkan. Semua perempuan berani dan berhak. Laki-laki mendominasi kemudian tersungkur. Perempuan sengsara lalu berdiri melawan. Laki-laki harus kalah. Perempuan harus menang. Bahkan film ini harus memberikan sebuah adegan misoginis menjijikan ketika Roman memaksa satu tamu wanitanya menari diatas meja dan melepas baju luarnya. Penulisan yang putus asa.

Beberapa poin film ini tentang emansipasi mungkin tepat, tapi untuk keseluruhan, aku tidak cocok dengan presentasinya. Birds of Prey masih terlalu remeh dalam menyampaikan statement yang mereka ingin katakan. Dengan judul panjang itu, filmnya jadi terkesan self-proclaimed alias ke-ge er-an sama kualitas mereka dalam berpesan. Birds of Prey hanyalah film superhero rata-rata dengan pembawaan komikal dengan action-nya yang tak realistis. Dan antagonis-antagonis laki-laki disini benar-benar kelewat bodoh dalam hal bertarung. Sekali lagi, film ini memang semau mereka saja.

Satu hal lagi yang membuatku melihat Birds of Prey tak beres adalah tentang rating R-nya, yang secara tidak bijaksana mereka gunakan untuk memberikan karakter 15 tahun Jay Bosco dialog dengan ‘kata F’. That’s not cool, that’s offensive.