Review – Birdman (2014)

5

Michael Keaton sudah tidak muda lagi, rambutnya hampir habis dan perutnya sudah tidak keras. Namun Alejandro González Iñárritu lewat Birdman melahirkan kembali kapabilitas dan kapasitasnya sebagai seorang seniman.

What is Birdman actually about ?, apakah hanya sebatas kisah fiksi dari tokoh Riggan Thompson atau Michael Keaton yang mencoba living his life as movie character ?, sial, apakah ini tentang Birdman atau Batman, apakah filmnya memang analogi kisah nyata Keaton ?, damn, kau boleh bilang apapun tentang universe macam apa yang ada di dalamnya, dan pada akhirnnya harus mengakui bahwa Alejandro González Iñárritu mampu menanamkan pesan yang kompleks dengan film loncatannya yang penuh pujian.

Sean Penn sampai kesal, ia harus mengumumkan Birdman sebagai jawara Best Picture Academy Award lalu, dan yang bikin tercengang adalah berturut-turut ia mengibarkan panji Mexico yang dahulu dikibar Alfonso Cuaron lewat Gravity, namun Iñárritu berbeda, ia menang film terbaik. Dan tanpa ragu, Birdman adalah film yang begitu timeless, jauh lebih menyenangkan jika kau sandingkan dengan film-film politik berbau darah asing dengan membawa embel-embel luar negeri, Argo dan 12 Years A Slave mungkin memang begitu powerful, namun Birdman memiliki kesan berbeda dan khusus.

Antonio Sanchez mengisi latar dengan tumbukan drum jazz, sangat kebetulan sekali karena Whiplash sebagai kompetitor lain juga menerapkan sesuatu yang sama, Emannuel Lubezki adalah pembeda, menyulap Birdman sebagai produksi kelas atas, sinematografi yang sulit, cut-free sequence, Lubezki menshoot setiap tokoh sebagaimana mereka berjalan, dialog yang semuanya menarik dan menggantinya ke tokoh lain ketika mereka berpapasan, benar-benar sempurna, namun tidak lebih daripada mengitari St James Theater, dan wajah Keaton yang paling banyak disorot.

Birdman muncul membingungkan di awal, itu adalah Riggan Thompson (Keaton) dengan leher yang begitu annoying, bermeditasi mengambang di ruangannya, alter egonya selalu bersikeras, Iron Man dan The Avengers telah merampas popularitasnya. Riggan menjalankan sebuah theater, Mike Shiner (Edward Norton) adalah solusi (dan juga masalah) yang muncul, Lesley (Naomi Watts) memiliki karir pas-pasan, Sam (Emma Stone) dengan hubungan tak baik dengan ayahnya, Zach Galifianakis mendapatkan peran waras bahkan lebih waras dari beberapa karakter lain. Entah apa dunia yang ada dalam film ini, Keaton menyebut Woody Harrelson dan bahkan Michael Fassbender, Shiner mengatakan Ryan Gosling adalah salah satu temannya, inilah sisi unik Birdman disamping semua yang menghebatkannya.

Akan lebih sulit mengulas film ini tanpa spoiler, tapi aku akan berusaha.

Birdman mengisahkan tentang seorang pria yang lebih dari dua dekade pudar dari industri perfilman, dia dulunya adalah ikon, pemeran tokoh Birdman, kini satu-satunya harapan karirnya adalah Theater pribadi, dan film ini mengisahkan periode dimana ia dan krunya sedang menggarap play dari Raymond Carver dari beberapa Preview hingga Opening, Riggan mencoba hidup seperti quote di scene awal, alter egonya menginginkan kembali popularitas lama , namun kadang ia hanya ingin mendapatkan recognition sebagai salah satu seniman, aktor dan seorang sutradara berkelas yang mana karyanya mampu berarti sesuatu. Riggan dikelilingi karakter yang membangun, Jake (Galifianakis) percaya pada ambisinya, Sam berterus terang akan usaha sia-sia ayahnya setelah kedapatan menggunakan ganja dan Tabitha adalah kritikus New York yang tidak menyukai kesombongan lampau Riggan. Namun satu hal yang selalu Riggan sampaikan dalam beberapa line, theater ini adalah harapan terakhirnya, semua telah dipertaruhkan, lebih dalam lagi, ini adalah pembuktian, seperti yang dikatakan dirinya yang lain : ‘kita akan melakukan come back

Berbicara diluar itu, Michael Keaton luar biasa, ia tampak gusar dan tidak ada harapan sebagai seorang seniman yang dilahap tren dan masa, karakter Edward Norton dengan lucu memberinya kepusingan. Michael Keaton tua memang agak jelek, membuka baju didepan cermin menunjukkan bahwa Birdman-nya sudah habis, menjual rumah di malibu demi membiayai produksi ‘play’-nya, senyum mengganggunya saat dengan Jake, adegan pukul dengan Shiner di dapur hingga scene legendaris Keaton hanya dengan sempak putih di jalanan Times Square yang mana Neil Patrick Harris harus susah-susah mengadaptasinya di perayaan Academy Awards kemarin.

Oh sial, aku jadi teringat bagaimana film ini begitu seimbang, porsi setiap karakternya, line-line yang tidak begitu penting namun mengena. Birdman untuk beberapa menit lain seolah menjadi cerita daripada karakter lain, dan itu sangat memikat.

Birdman meninggalkanmu dengan tenang, endingnya melahirkan banyak teori, namun asumsi pribadi sudah cukup melabel film ini sebagai film yang hebat dengan kritik satir akan dunia industri perfilman kini dengan nuansa black comedy ala Iñárritu. Bravo !

5

Engineering student but movies way more than manufactures