Review – The Big Sick (2017)

4

Untuk film juga kehidupan Kumail dan Emily yang penuh drama dan perjuangan itu, aku katakan Bravo !

The Big Sick sama-sama adalah romantic-comedy yang populer dan tidak populer. Pratinjaunya memberi kesan layaknya usaha kelas indie, namun semua sepakat bahwa namanya terasa begitu meledak di telinga penikmat film. Menceritakan seorang pria Pakistan yang jatuh hati pada wanita baru-lulus Kaukasian yang bertemu secara tak sengaja, jadian, putus, jadian lagi dan putus lagi. Untuk sebagian bumbu, kesan klise memang tak terhindarkan, tetapi Ini spesial, dan mungkin itu baru terlihat di bagian akhir filmnya, dan bagi kau yang tidak melakukan riset terlebih dahulu, cukup mencengangkan mengetahui bahwa seluruh perjalanan cinta, karir, hubungan keluarga, dan kehidupan (literally) yang dialami oleh karakternya adalah kisah yang nyata, dan diperankan sendiri oleh yang bersangkutan ; Kumail Nanjiani adalah Kumail Nanjiani disini, dan ini adalah kisah tragis-manis yang penuh tekad. Entahlah, rasanya masih lucu saja, melihat Kumail di film ini dan membayangkan bahwa sebelumnya ia menjalani kehidupan dengan skenario yang sama !. Membuatmu lebih menghargai kisah-kisahnya, yang awkward dan syarat dengan keapesan dan rasa syukur para karakternya.

Sayangnya sang love interest, Emily Gordon tidak diperankan pula secara langsung oleh yang bersangkutan. Namun dirinya adalah bagian besar dari proyek ini, bersama Kumail ia menulis skenarionya, dan ia pula yang melakukan casting untuk mencari siapa yang paling pantas untuk memerankan dirinya. Pilihan jatuh kepada Zoe Kazan, and thank God for that. Such a sweetheart, Kazan membawa karakter Emily sebagai gadis yang adorable, atraktif, dan tak terprediksi. Kita berempati padanya, walaupun mungkin ia adalah orang yang persisten untuk “tidak memberimu kesempatan kedua”, pesonanya terlalu kuat untuk tidak dicintai.

Nyatanya, kita patut sepakat bahwa The Big Sick memiliki volume komposisi tokoh yang besar dan semuanya lovable, all of them. Ini karena Kumail-Emily memberikan mereka semua dialog dengan sisipan humor. Kisah Kumail dan Emily lama kelamaan merambat, memasukkan member keluarga dalam cerita dan konfliknya terintegrasi dengan baik. Dengan eksplorasi pendalaman karakter yang baik, kita tidak hanya mengenal, namun memahami personalitas dan prinsip para orang tua dari kedua belah pihak. Diawali dengan ide Emily yang menyarankan bahwa mereka harus bertemu orang tua satu sama lain untuk berkenalan, Kumail agak ragu . Adalah karena ia berasal dari keluarga Pakistani yang memiliki budaya dan agama yang kuat, dan fakta bahwa ia tidak pernah menceritakan pacarnya yang seorang Amerika itu kepada orang tuanya karena tradisi telah membiasakan mereka melakukan perjodohan pada anaknya (atau arranged marriage), Kumail berpikir bahwa saat ini itu bukan ide yang baik, tapi perasaan dilematis datang karena itu artinya Kumail menyembunyikan sesuatu dari Emily (ya !, ia juga tak pernah menceritakan ini padanya) dan pada satu sisi, ia tidak akan mau kehilangan keluarganya. (Dalam satu line, Kumail menceritakan pengucilan salah satu anggota keluarga besarnya yang menolak dijodohkan dengan menikahi orang skotlandia).

It is great. Sesuai dengan konsensus kritik Rottentomatoes, bahwa The Big Sick menunjukkan genre comedy masih memiliki ruang yang luas untuk pengembangan, dan isu cross-cultural penuh tantangan ini dijawab filmnya dengan begitu manis, Kumail digambarkan belum yakin dengan Islam, ia tidak beribadah, namun bagaimana filmnya menaruh respect tinggi terhadap Islam dan budayanya begitu kentara. Walaupun cukup kental dengan kultur agama, filmnya tidak pernah menyinggung tentang prinsip kepercayaan. Kumail mengungkapkan bahwa ia hanya tak bisa menjalani seluruh prosedur perjodohan ini tanpa mengungkapkan pikiran-pikiran modern society yang mungkin berpikir bahwa tradisi demikian tidak ideal. He doesn’t critizize it, he just can’t.

Berbicara tentang komedi, the joke is working fantastically. Ini sangat komikal dan bahkan latar belakangnya sudah menunjukkan itu. Kumail adalah Stand-Up comedian, dan filmnya penuh adegan-adegan open-mic yang lumayan. Full of smart one-liner, filmnya tetap terasa lucu pada situasi serius, seperti kejadian saat Kumail merebut paksa kertas pernyataan pemindahan pasien dari ayah Emily yang ternyata denah garasi. Pun adegan personal Kumail-Emily yang intim tentang buang air besar di tengah malam atau ketika Emily menguap ketika film horor kelas B yang direkomendasikan Kumail baru saja mereka tonton. All the dry wit, segala cerita tentang Pakistan, The X-Files Jokes, The ISIS is hierarchly better than standup comedian jokes, hingga celetukan yang quotable karena terdengar cerdas dan masuk akal : “I thought i could just start saying something and something smart would coming out”. Wow, Kumail bukan hanya aktor dan penulis yang hebat, dia adalah komedian kritis yang jenius. .

The Big Sick bagaikan perjalanan nasib yang panjang, pada suatu waktu terasa puitis dan ajaib. Tapi kita tahu bahwa Kumail Nanjiani dan Emily Gordon adalah orang-orang yang tak menyerah begitu saja demi orang yang mereka kasihi. Terima kasih kepada Beth (Holly Hunter) dan Terry (Ray Romano), Sharmeen (Zenobia Shroff) dan Azmat (Anupam Ker) yang telah menjadi sets of caring parents yang luar biasa. Terakhir, untuk film dan kehidupan Kumail dan Emily yang penuh drama dan perjuangan itu, aku katakan Bravo !.

Wait, apakah aku belum katakan satu kalimat pun tentang sang sutradara ?, well you deserves that too, Michael Shoewater

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick