Review – Arrival (2016)

5

Seringkali, makhluk asing akan menginvasi dunia atau menyatakan suatu gestur perdamaian dengan manusia. Di film ini, they just ‘arrive’.

re arrival

Membicarakan Arrival, sebenarnya lebih nyaman dan mudah untuk membahasnya sebagai bahan diskusi paska tonton daripada sebagai ulasan persuasif bagi para calon penontonnya nanti. Itu karena menyaksikan Arrival yang akan membuatmu berfikir, bukan berarti materinya berat, namun dibutuhkan kefokusan untuk bisa menikmati dan mendapatkan pesannya. Semakin kau mempelajari film ini, semakin kau mengaguminya.

Lantas, apa yang membuat film arahan Denis Villeneuve (Prisoners, Sicario) ini melambung tinggi, bahkan menjadi favorit para kritikus ?. Pertama, tentu saja adalah efek kejutnya, ini bukanlah The Day the Earth Stood Still ataupun Independence Day, baik secara kualitas atau skema konsep. Arrival akan jadi so lame, jika ekspektasimu demikian, Tidak akan ada perang dengan suara-suara eksplosif, tidak akan ada aksi. Arrival akan ditinggalkan begitu saja bagi yang berpikiran bahwa film harus selalu amusing. Ini adalah sajian sci-fi dengan konsep baru, namun ambisinya besar.

Arrival mungkin memiliki substansi yang paling akurat dalam konteks kemasuk-akalan jika dibandingkan dengan film ‘Alien datang ke Bumi’ lainnya, sisi kecocokannya dengan realisme diperhatikan, unsur ilmiahnya diberikan dalam suatu detil yang tidak kurang. Ketika 12 spacecraft seukuran raksasa secara misterius muncul di 12 titik berbeda di Bumi, termasuk di Montana, Amerika. Pemerintah dan para militer tidak langsung panik, atau melayangkan serangan. Mereka melakukan tindakan pertama yang paling logis dalam naluri manusia, mengajak mereka untuk berkomunikasi. Dengan bantuan ahli bahasa dan linguistik Louise Banks (Amy Adams) dan fisikawan Ian Donnely milik Jeremy Renner, Arrival  siap memberikanmu drama misteri intelektual yang cerdas dan menantang.

Oke, jadi ini bukan film amatiran dimana alien datang dan bisa berbahasa inggris, ya.

Lalu filmnya berprogresif dari sana, 12 spacecraft ini, atau sebut saja ia ‘shells’, sama sekali tidak menyerang, materi bendanya tidak diketahui, yang jelas ia tidak mengeluarkan radiasi atau meninggalkan emisi. Setiap 18 jam sekali, di bagian bawah shell, terbuka sebuah pintu akses ke dalam badan kapal. Setelah masuk, kau akan melewati portal gravitasi nol dan berhadapan dengan sebuah kaca pembatas besar, dimana kau bisa melihat ‘mereka’ secara langsung. Ini adalah saat dimana Banks dan Ian mengobservasi, dan menjalankan tugas mereka. Dibawah kendali Colonel Weber (Forest Whitaker), tiga hal yang diperlukan bagi seluruh dunia terhadap kedatangan tak diundang benda-benda asing ini, seperti katanya : What do they want? Where are they from?

Dua-belas negara saling terhubung dalam satu jaringan yang sama. Terus memberikan informasi dan kemajuan yang ada. Saling meyakinkan untuk tidak melakukan tindakan ceroboh. Mempelajari ‘makhluk ini’ tidaklh mudah dan tidak sebentar. Di sisi lain, pemerintah melakukan langkah untuk mengarahkan full intensive security dalam menangani permasalahan dari luar bumi ini. Menyebabkan tmbulnya chaos di berbagai belahan dunia yang tak terelakkan. Pertanyaannya, sampai kapan para pemerintah (dan militer) bisa menahan keadaan seperti ini, inginkah mereka tetap menunggu, atau segera mengambil keputusan akan suatu ‘aksi’ ?

Arrival memberikan pengalaman sinematis yang mencengkram, emosional dan provokatif. Dimana penonton masuk dan terwakili oleh karakter Louise Banks sepenuhnya di dalam film. Dengan sorotan sudut pandang Banks yang kadang-kadang diisi oleh narasinya sendiri,dan juga yang kadang melompat-lompat pula, kita akan bertanya-tanya. Hingga pada akhirnya suatu ending menghentakkan akan memaksamu untuk mengapresiasi tinggi film ini. Itulah sebabnya aku bilang kau perlu fokus, banyak clue sebenarnya yang telah diberikan Denis Villeneuve sepanjang jalan film. Segala dialog, hingga monolognya menjadi masuk akal dan menghempaskan. Jika perlu, tonton Arrival setidaknya dua kali.

Babak awal film in sangat mengintimidasi, misterinya terpusat pada kapal asing berbentuk separuh oval yang bulat gigantis, ditambah scoring dari Jóhann Jóhannsson yang terdengar alien-ish, juga track berjudul “First Encounter” yang diputar ketika Banks dan Ian pertama kali mengunjungi sang kapal, yang sangat haunting, kau akan gemetar. Dibalas dengan babak kedua Arrival yang tidak akan pernah kau duga akan seperti itu, kita akan terlalu fokus dengan ‘Alien’ dan tak sadar bahwa film ini lebih bercerita tentang ‘Human’. Paruh kedua yang bisa saja membuat matamu basah ditambah dengan scoring -kali ini milik, Max Ritcher yang pedih, adalah konklusi tentang human nature dan fate yang penuh pernyataan, argumen dan pesan untuk disampaikan.

Amy Adams akan kucintai mulai dari sekarang. Tanpa ragu ini adalah peran terbaiknya, begitu tenggelam dalam karakternya dan intimasi yang luar biasa. Layak untuk diingat, Louise Banks-nya Amy Adams mengajari bahwa hidup kadang-kadang bukan tentang destiny namun tentang journey yang dikandungnya.

If you could see your whole life from start to finish, would you change things?

A Sci-fi Masterpiece

Engineering student but movies way more than manufactures