Review – Alpha (2018)

2.5

Alpha adalah kisah pendek wajar dan terbayangkan bagi siapapun tentang asal-usul hewan domestik.

Proyek 50 juta dolar tanpa nama besar Albert Hughes berujung pada urgensi penceritaan tentang bagaimana hal-hal tertentu dimulai dan bertahan hingga sekarang. Dibawa menuju 20 ribu tahun yang lalu di Eropa, aku tak terbayang bahwa filmnya adalah tentang origin story of pet.

Oke, origin story of pet; mungkin aku kurang menghargai. IMDb mengungkapkan sinopsisnya sebagai pertemuan manusia dengan serigala yang berujung pada persahabatan yang mengubah sejarah kemanusiaan. Bit exaggerating ?. Orang akan menjawab ya atau tidak. Yang jelas, Alpha secara garis besar mengekspos tentang itu.

Alpha berkesan menjadi dua kemungkinan paling terlihat untukku. Film ini akan luar biasa menyentuh dan meledak bagi siapapun yang sentimentil, atau sangat relate dengan these dog things. Aku tak tahu bagaimana para penyunting gambar melakukan itu, namun visualisasi serigala (yang secara tersirat pada akhirnya akan berevolusi menjadi anjing) ini luar biasa terlihat hidup dan menggemaskan. Di sisi satunya, Alpha tersuguh seperti cerita yang nanggung dan kau akan seperti: Jadi hanya itu saja ?. Ya, ini tidak akan pernah cukup bagiku. Aku mengharapkan eksplorasi lebih, yang sebenarnya terbuka lebar dan luas dengan setting yang sebenarnya tidak main-main, Zaman Prasejarah.

Kodi Smit-McPhee lagi lagi menjadi anak yang selalu menjadi isu orang tuanya. Disini ia adalah Keda, anak kepala suku, yang (mungkin kau bisa menebaknya) belum terlalu siap untuk menjadi orang dewasa. Dalam konteks ini maksudku untuk berburu, untuk menyembelih hewan buruan, atau sekedar berteriak berwibawa layaknya anak kepala suku. Dalam suatu latihan bergulat, sang Ibu tak tega ketika ia kalah telak dipukuli. Sang ayah (diperankan oleh Jóhannes Haukur Jóhannesson) bingung, gemblengan demi gemblengan ia tunaikan. Pada satu waktu saatnya tiba, Keda dirasa sudah siap untuk ikut berkelana begitu jauh untuk berburu. Dan satu hal tak diinginkan terjadi, ia jatuh ke jurang dan tak bisa diselamatkan. Ketika kawanan melanjutkan perjalanan, secara mengejutkan (sebenarnya kau juga mengetahui ini sih), Keda masih hidup.

Dan ia bertemu anjing ini, yang ia namai Alpha dengan suatu alasan. And the survival is now. Ini seperti The Revenant kelas ringan dan dengan perasaan lebih kurang realistis. Alpha sebenarnya pun bisa bagus walau dengan hanya materi seperti ini, asalkan eksekusi penggambaran penderitaan yang dilampaui Keda tidak terlihat semudah itu.

Ia berjalan dengan pakaian seadanya menerjang badai salju berkali-kali dan seperti tanpa tekanan dan luka…

Diantara itu semua, Alpha menawarkan lanskap dan keindahan timelapse akan langit yang masih tak bernoda, yang menggambarkan bintang-bintang dan tata surya. Kadang ia juga menggambarkan gambar gerhana hingga potret birds eye lengkuk bumi sebagai adegan kilat selingan.

Bagaimana-pun, Alpha mengajari kita semua tentang budaya dan teknis lampau. Alkisah tentang pengembaraan dan meninggalkan jejak sebagai tanda bahwa leluhur menyayangi kita. Cukup mendamaikan dan memesonakan mata. Untuk menontonnya di bioskop, aku serahkan semuanya tergantung seleramu.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick