Review – Ad Astra (2019)

4.5

Ad Astra menuturkan kisah perjalanan mengubah hidup lewat renungan ditengah dekapan sunyi luar angkasa.

 

Menonton Ad Astra bukanlah sesuatu yang mudah. Tidak mudah karena ekspektasinya tidak boleh keliru di awal. Ini bukan hiburan atau semacamnya. Filmnya tidak seru jika kau mencari itu sebagai alasan utama menontonnya.

Ad Astra tidak menjual aksi, atau gagasan sains fiksi. Barangkali di filmnya memang ada unsur itu sedikit-sedikit, atau mungkin pratinjaunya memang demikian. Namun sesungguhnya, film yang disutradarai James Gray ini adalah film super intim mengenai perasaan dan hubungan manusia.

Major Roy McBride (Brad Pitt) mengalami petaka ketika bertugas dari ketinggian yang mungkin puluh ribuan kaki di ujung atas atmosfer di sebuah antena luar angkasa internasional (International Space Antenna). Ketika sebuah gelora dengan daya besar tiba-tiba datang dalam sekejap dan merusak seluruh sistem elektromagnetik antenna, meledakkannya dalam giliran, Roy harus terpaksa lompat, terjun bebas, memberikan salah satu adegan paling keren sekaligus menakutkan dari filmnya sendiri.

Tak lama setelah itu, secara personal Roy dipanggil menghadap U.S. Space Command (SpaceCom). Mereka terkesima dengan profilnya yang eksepsional dan fakta bahwa denyut nadinya tidak pernah melebihi 80 per menit dalam kondisi hampir mati pun. Panggilan itu ternyata mengantarkannya pada sebuah misi yang pada satu sisi mengejutkannya, dan pada satu sisi ia tahu bahwa mau tak mau harus ia lakukan. Gelora itu (dalam film ini disebut sebagai the surge) oleh SpaceCom disebut dipicu oleh aktivitas luar bumi. Dan SpaceCom yakin, bahwa gelora yang muncul secara periodik itu, datang dari Lima Project Projek eksplorasi luar angkasa puluhan tahun lalu yang ekspedisinya dikepalai oleh H. Clifford McBride (Tommy Lee Jones), astronot legenda yang tak lain adalah ayah dari Roy.

Sebelum berbicara mengenai Lima Project, kita perlu memperhatikan waktu kejadian di Ad Astra. Bahwa itu adalah masa depan dimana perkembangan eksplorasi luar angkasa sudah menuai milestone yang cukup jauh. James Gray kreatif dalam menggambarkan kemajuan yang ada. Perjalanan ke bulan kini terlihat sepele, bahkan dikomersialkan ditambah sudah dibangun fasilitas semacam convenient store pula disana (ada Yoshinoya dan Applebee di bulan). Hub manusia sudah mencapai planet Mars, dan tantangan selanjutnya mengenai luar angkasa adalah mencari bukti intelligent life alias kehidupan cerdas, alias eksistensi alien yang mana merupakan misi utama eksplorasi Lima Project yang kusebut tadi.

Mendengar itu, Roy tidak terlihat tersentak, ia masih tenang namun kebingungan. Bagaimana mungkin?, Lima Project sudah mangkat 26 tahun lalu, dan ayahnya dikenang sebagai pahlawan bidang antariksa yang gugur dalam ekspedisi itu, ekspedisi yang telah lama tidak memberi kabar dan tak dapat dikontak lagi. Tiba-tiba hari itu Roy diberitahu bahwa ayahnya masih hidup di sekitar Neptunus dan adalah biang dari Gelora itu, yang ditengarai paparannya mengancam kehidupan manusia di Bumi lewat dampak katastropiknya.

Didampingi dengan teman masa lalu sang ayah, Colonel Pruitt (Donald Sutherland), Roy lepas landas dari Bumi untuk menyusul keberadaan ayahnya yang sudah sangat-sangat jauh disana hampir diujung galaksi. Misinya bersifat rahasia, Roy diharapkan kooperatif untuk menghadapi ini secara professional, bukan personal. Dan darisana, drama dimulai.

Perjalanan menjemput sang ayah adalah perjalanan memahami sang ayah bagi Roy. Memahami misteri yang melatarbelakangi apa yang menjadi motivasi ayahnya terhadap ini semua, jika saja apa yang dikatakan SpaceCom benar. Roy merenung dan mencoba mengingat bagaimana sosok ayahnya dulu, tapi semakin lama ia sedikit demi sedikit fakta yang mulai terkuak membuatnya tak mengerti. Mungkin ia sama sekali tidak mengenal ayahnya.

Terus terang aku sendiri merasa terkejut mengenai apa yang Ad Astra tawarkan, yang ternyata sangat sensitif dan intim. FIlmnya diselingi momen dimana Roy harus melakukan tes evaluasi psikologis berbasis komputer secara rutin. Dimana ia harus jujur dalam menyampaikan perasaan dan emosinya. Ad Astra mengerucut lagi pada sesuatu yang kontemplatif. Perlahan, misi tersebut bagi Roy juga merupakan sarana untuk mengenali dan menemukan dirinya sendiri pula.

Selain unik, apa yang mampu dilakukan James Gray terbilang hebat. Ia mencoba menciptakan suasana hubungan batin yang rumit lewat kemasan ketiadaan dan luar angkasa. Gray menggunakan tematik luar angkasa hanya sebagai media penyampaian pesan, bukan senjata utama. Tema itu dia gunakan untuk mengeksplor ketakutan dan tekanan mental akibat kesunyian, akibat masa-masa yang berlalu begitu lama, akibat kesendirian.

Memang hal itu tidak baru, kita pernah melihat Gravity (2013, oleh Alfonso Cuaron), Moon (2009, oleh Duncan Jones) atau The Martian (2015, oleh Ridley Scott). Namun jika di film itu tematik luar angkasa digambarkan sebagai sarana yang menantang untuk bertahan hidup, di Ad Astra ia adalah sarana untuk proses yang mengubah pribadi.

Namun sebagai catatan kaki: Ad Astra menawarkan drama suspense pula dalam perjalanannya bersama kapal luar angkasa Cepheus yang menopang misi ini.

Ad Astra berakhir seperti luka yang pada akhirnya mengobati, bahwa beberapa hal memang tak bisa dimengerti pun dipaksakan. James Gray memberikan kesimpulan yang luar biasa mengenai hasil akhir film nya. Ending yang impas.

Ad Astra adalah salah satu film yang berhasil meninggalkanmu dengan perasaan yang lebih dalam apabila kau menontonnya lagi. Jika kurang berhasil pada tontonan pertama, beri ia kesempatan lagi. Ini film penting, analogi peribahasa “gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak” yang dalam hening, ia terasa menggelegar.