Review – 20th Century Woman (2016)

3.5

20th Century Woman bercerita banyak, ini adalah boyhood, motherhood atau parenthood, dengan dua sajian utama : pergaulan remaja, dan cinta.

Dari sampul titelnya, 20th Century Woman -terdengar naif dan penuh komitmen. Tentu saja menimbulkan praduga, dengan poster utama para karakternya yang didominasi perempuan berdiri dengan penampilan vintage nan karismatik : Ini pasti adalah film tentang betapa kuatnya sosok-sosok perempuan. Benar saja, walaupun kata ‘wanita kuat’ akan kita perdebatkan setelah ini, yang jelas, film ini adalah persembahan spesial, terkandung dari keberadaan para pemeran-pemeran wanita. Khususnya Anette Bening, memerankan orang tua tunggal bernama Dorothea Fields, dengan umur sekitar pertengahan 50 tahun, ia telah melewati dan merasakan kehidupan dua babak yang sangat berbeda dalam satu abad.

Tapi, 20th Century Woman pula, adalah film yang kacau, atau membiarkan dirinya sendiri terlihat kacau. Narasi Mike Mills tak terpusat pada satu konflik, ini merupakan coming-of-age yang sempurna dan mendetil. Dorothea melahirkan anaknya diusia 40 tahun pada 1963, atau 16 tahun lalu dari waktu saat itu, seorang laki-laki bernama Jamie (Lucas Jade Zumann) besar dengan sang ibu karena ayahnya telah bercerai. Tinggal di rumah, mereka menyewakan beberapa kamar untuk seorang laki-laki paruh baya, lebih muda daripada Dorothea, bernama William (Billy Crudup), yang menguasai dunia pertukangan dan otomotif, ia juga sculptor. Kamar yang lain adalah seorang remaja mid-twenties bernama Abbie (Greta Gerwig), gadis independen dan seorang jurnalis, pecinta lagu punk dan penganut aliran pop-cultur. Untuk banyak bagian, Abbie terlihat bagaikan kakak perempuan Jamie. Elle Fanning turut membintangi dengan memerankan remaja lepas bernama Julie, teman Jamie dengan umur dua tahun lebih tua. Julie sering diam-diam menyelinap ke kamar atas milik Jamie dan menumpang tidur malam, kadang Jamie merasa ia menaruh suka, tapi Julie lebih rasional, “Friends can’t have sex and still be friends”.

Saat itu adalah tahun 1979, dan Bening adalah karakter utama, tapi apakah film ini mengenai cerita karakter Bening semata ?, tidak, 20th Century Woman bukan cerita tentang satu atau dua orang saja. Kelima karakternya (seperti pada posternya itu) memiliki kisah dan seluruhnya dipersembahkan, sebagai satu badan, dengan keintiman masing-masing karakternya yang menarik, aib yang mereka bagi kepada semuanya, salah seorang, atau yang dipendam sendiri.

Utamanya adalah Jamie dan sang Ibu, tentang hidup, tentang benci namun kebanyakan kasih sayang. Dorothea pada satu sisi merasa bahwa Jamie butuh sosok pria dewasa, namun sendirinya tak terlalu tertarik dengan ide mencari pasangan lagi. Kadang sang anak yang tak habis pikir, “Kenapa ibu merasa baik-baik saja untuk merasa sedih dan sendirian ?”, katanya. “Kau tak berbicara seperti itu pada Ibu.”, jawabnya. Sedangkan Elle Fanning dan Greta Gerwig dengan karakternya masing masing, bertindak dan mempengaruhi sebagai teman atau saudari Jamie, dan suatu waktu berbicara dengan Dorothea tentang wanita dan bagaimana sejarah terasa berat untuk laki-laki.

Dua karakter laki-laki dan tiga perempuan, tapi tetap, yang dinyatakan adalah tentang satu hal : Wanita. Mills memberikan penceritaaan yang unik lewat perspektif, bagaimana perempuan memandang laki-laki dan bagaimana perempuan dipandang laki-laki. Pokoknya ini adalah tentang wanita, dan walaupun eksplorasi tentang gendernya sangat terasa antara laki-laki dan perempuan, Mills mengantarkannya dengan sempurna tanpa sedikitput terlihat sexist.

20th Century Woman adalah mengenai wanita dan juga abad ke 20. Sinematografi free-flowing dengan menunjukkan fotografi footage yang antik dan sempat juga menawarkan frame trippie-hippie. Abad dua-puluh dipenuhi dengan kultur yang bergerak, punk hingga konsumerisme, juga bagaimana beberapa generasi yang berbeda memandangnya dengan kesan yang berbeda pula. Mills berkata bahwa film ini adalah kenangannya dan memang filmnya lebih terasa bagaikan pengalaman, kadang-kadang. Darisana aku tahu bahwa kita tidak benar-benar beruntung hingga mulai mensyukuri keadaan.

20th Century Woman bercerita banyak, ini adalah boyhood, motherhood atau parenthood, dengan dua sajian utama : pergaulan remaja, dan cinta.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick