Review – 1917 (2019)

4

Komitmen dan eksekusi aspek teknis 1917 yang superlatif sukses menghantarkan penonton ke pengalaman baru turun ke medan perang.

Beberapa orang (tidak banyak) mengeluhkan 1917 karena ia tidak cukup kuat dalam integral bernarasi, seperti plotnya yang lemah, dialog yang kurang, dan pendalaman karakter yang diabaikan. Dan itu benar, karena memang cukup terlihat. Tapi ini bukan artinya Sam Mendes, sang sutradara, kedodoran alias lengah disana, karena kemungkinan memang ia mengorbankan hal-hal itu demi aspek lainnya yang menurutnya lebih besar. Aspek yang ia pilih untuk ditonjolkan dan syukurnya, dieksekusi dengan sangat baik hingga semua orang tidak bisa berhenti membicarakannya. Tiap channel Youtube histerikal tentang ini, tentang bagaimana 1917 memberikan pengalaman baru lewat sinematografi one-long-take nya.

Ya, 1917 memang disajikan sebagai satu adegan panjang yang tak terputus hingga akhir. Teknik single-shot ini bukanlah metode baru sebagaimana Alfred Hitchcock sudah mempeloporinya di Rope pada 1948 dan beberapa film modern seperti Birdman dan Children of Men juga berkreasi dengan metode ini. Dibelakang layar, filmnya tidak serta merta memang diambil dalam satu tembakan, namun teknologi dan siasat sinematografer, khususnya oleh Roger Deakins di 1917, telah memberikan eksekusi mulus nan ciamik melalui cut tersembunyi di filmnya memanfaatkan warna, objek foreground dan gerakan kamera yang cepat.

Single-shot ini membuat 1917 terasa imersif walaupun kita tahu bahwa premis filmnya sangat sangat simpel. Tentang dua orang remaja kopral, Tom Blake (Dean-Charles Chapman) dan William Schofield (George MacKay) yang ditugaskan Jenderal resimennya, Jeneral Erinmore (Colin Firth) untuk mengantarkan pesan ke Kolonel Mackenzie dari resimen lain di tempat berbeda, pesan mengenai instruksi pembatalan penyerangan setelah mempelajari bahwa semua itu adalah jebakan Jerman. Keduanya mau tak mau mengiyakan, namun Blake memiliki motif yang lebih kuat dalam menyongsong misi ini, karena abangnya merupakan bagian dari resimen lain yang dimaksud, dan jika pesan ini tak disampaikan, maka pembantaian akan terjadi.

Berbekal partisi yang ada, sedikit makanan dan penjelasan secukupnya mengenai akses-akses yang mungkin aman untuk bisa mereka tempuh, Blake dan Schonfield melepaskan diri dari rombongan, hanya berdua. Kini waktu terasa mengejar mereka karena pesan ini harus sampai sebelum penyerangan besok pagi.

Keputusan Sam Mendes untuk mengkasting aktor-aktor yang relatif tidak terkenal untuk slot tokoh utama adalah keputusan yang brilian. Pasalnya, hal tersebut membuat penonton bisa mencoba fokus terhadap hal lainnya dan juga menegaskan bahwa 1917 adalah mengenai keseluruhan perjalanan melaksanakan misi alih-alih sajian yang menenggelamkan penonton kedalam sanubari satu atau dua karakternya. Selain itu, pemilihan aktor yang terkesan random memberikan dampak lebih lewat penuturan bahwa ditengah ribuan tantara yang sama rata itu, kau bisa saja tiba-tiba menjadi lebih penting dari yang lain.

Kita akan fokus tatkala Deakins menggerakkan kamera secara kontinyu mengikuti dua pahlawan tak dikenal kita ini. Mengikuti mereka dari belakang, lalu memutar berganti membimbing mereka dari depan. Sinematografi pemenang piala Oscar 2020 ini berhasil merekam cerita dalam angle sulit: menyisir parit yang sempit penuh tantara hingga merayap di atas permukaan genangan air.

Komitmen Mendes dan Deakins dalam mengantarkan sinematografi demikian membuat pengalamannya lebih ekstensif. Rasanya memang dari awal hingga akhir kita berada disana juga bersama mereka, sepanjang waktu. Kamera Deakins mengamati dan menjaga tokoh-tokoh kita terhadap Jerman-Jerman yang mungkin bersiap dibalik dinding. Disini, penonton bisa relate dengan segala kepayahan yang dialami dua orang kita, kita bisa merasakan licinnya lumpur-lumpur diantara medan perang yang bergelombang, kita bisa merasakan kelelahan fisik Sconfield terutama yang hampir setiap waktu berlari-lari.

Dengan tipikal cerita yang memang sudah banyak beredar di film-film perang sebelumnya, banyak dari kritikus yang menilai film ini biasa saja karena mereka harus mengambil titik tengah atas kehebatan aspek teknisnya dan kelemahan ceritanya. Dan disini aku tidak setuju dengan cara penilaian seperti itu, aku tidak setuju pada yang mengatakan bahwa single-shot film ini hanya sekadar gimik seolah-olah hal itu mudah saja.

Dari awal 1917 memang tidak menjanjikan semua hal, bagiku Mendes ingin mengatakan “hei, aku memiliki cerita yang tidak buruk namun aku bisa menyampaikannya padamu dengan sangat baik”. Dan filmnya menepati itu. This is perhaps not a great film, but it is a great filmmaking.

Note: ada Sherlock dan Moriarty di film ini