Penayangan Metropolis bersama Filmorchester Babelsberg di Surabaya

Duduk di kursi nyaman, dan menonton sebuah film masterpiece di depan layar lebar dengan alunan live-orchestra rapi yang memikat. Ini tidak sekedar hiburan, tapi perjalanan teatrikal yang akan selalu teringat

11951681_1631544777086078_5582580624247810808_o

Sulit untuk menentukan harus mulai dari mana ketika ingin menceritakan suatu pengalaman yang mengesankan, sangat sulit, namun mungkin saya akan memulainya dengan mengganti kata ‘aku’ seperti biasanya, dengan kata ‘saya’, karena kali ini saya merepresentasikan diri saya sendiri, dan itu jelas harus sopan. Ini adalah cerita saya tentang beberapa minggu lalu yang menjadi saksi ‘hampir’ bisu atas kemegahan perform orkestra dibarengi penayangan film, sesuatu hal yang baru dan mahal bagi saya, suatu yang menyenangkan karena kesempatan itu datang dengan timing yang pas dan terjadi oleh suatu yang tidak lebih dari kebetulan.

Tidak perlu bercerita akan kebetulan itu, intinya saya tidak sengaja mendapatkan dan membaca brosurnya, dan saya seperti merasakan keuntungan langsung akibat kuliah di tempat besar seperti di Surabaya, acara-acara mahal seperti ini tidak akan pernah dilaksanakan di tempat saya berasal, dan saya anggap itu sebagai kebetulan baik pula.

Baik, ini adalah acara tentang penayangan film Metropolis (1927) bersama Film Orkestra Babelsberg, keduanya berasal dari Jerman, dan acara ini memang dihelat oleh institusi Jerman, Jerman Indonesia bersama sokongan Goethe Institute disponsori oleh merk-merk dagang Jerman yang sudah berkembang jauh di Indonesia seperti Bayer, Nivea, Siemens,Allianz, BMW dan lain-lain. Sepertinya ini adalah bentuk perhatian dan kasih sayang akan persahabatan Jerman dan Indonesia, dan acara bertajuk Jerman Fest ini hanya salah satu rangkaiannya, walaupun tidak dapat dipungkiri, penayangan yang dilakukan selama rentang 6 hari di tiga kota berbeda (lainnya Bandung dan Jakarta) adalah effort yang paling mewah dan masif,

Di Jakarta ditayangkan di depan publik di Taman Ismail Marzuki, di Bandung bertempat di Aula, sungguh beruntung karena pelaksanaannya di Surabaya ber-set di Hall cukup megah, elit dan nyaman untuk diduduki selama 3 jam lebih waktu kotor. Saya duduk di tengah-tengah, sedikit berada di sisi kanan dan diatas bangku-bangku VIP yang sungguh disesali banyak yang kosong akhirnya. Jelas disayangkan, kalau bisa saya tentu memilih untuk duduk didekat sang konduktor atau sekedar melihat bagaimana para peniup terumpet harus bersibuk selama 150 menit. Tapi setidaknya hampir semua kursi terduduki, dan itu melegakan, entah kenapa. Mungkin hanya inilah bagaimana kita harus berterima kasih, bertepuk-tangan dan standing ovation, sebatas itu.

Indonesia Raya sebagai sesembahan awal cukup memukul saya dengan keras, kesan yang timbul luar biasa, bahkan itu pertama kali saya mendengar suara violin mungkin, dan ansambel ini membawakannya dengan neat dan menjiwai, untuk beberapa menit disana, saya merinding, beberapa kali darah terpacu ke-otak, dan kian lama kian menggembirakan, kesenangan ini masih akan berlangsung selama 2 jam lebih.

12002507_1631544823752740_7117620577832362584_o

Hall Ciputra, sebagai tempat berlangsungnya acara ini, memang terdesain seperti studio bioskop, tapi lebih mirip studio theater, ada panggung dan proyektor yang tidak sebesar itu. Tapi tidak terlalu masalah, kami sudah datang sejak awal dan mencari spot yang bagus. Metropolis mulai dengan title card awal sebagai pendahuluan sebelum kita masuk ke film, menceritakan bahwa film ini telah banyak digubah, banyak bagiannya yang hilang, hingga lebih dari seperempat film, pemotongan semena-mena karena banyaknya pihak yang tidak senang akan sebagian isinya. Namun dijelaskan pula bahwa bagian yang hilang itu ditemukan di Buenos Aires, dan potongannya telah digabung dengan proses yang sulit, sehingga ada beberapa potongan film dengan kualitas yang berbeda-beda, antara yang bagus dan damaged one. Tapi yang saya alami adalah persembahan Premiere, yakni full-length version dengan durasi 148 menit (kau bisa menyaksikan copy asli nan bersihnya di youtube dengan titel restored version). Apakah memuaskan ?, sudah pasti.

Setiap menit saya dibuat tertegun, penggambaran futuristik Fritz Lang yang klop dengan musik-musik latar Gottfried Huppetz, yang saat itu terdengar menggelegar, begitu ekpresif, menakjubkan dan kadang-kadang membuat merinding.

Namun apapun itu, saya sangat merasakan jelas bahwa tak sedikit penonton yang datang untuk tidak benar-benar ingin meyimak isi film, prestisi yang diembannya sebagai produksi tahun 1925. Pergi ke toilet saat film masih berlangsung terjadi berulang kali, membuat saya geram, bagaimana orang-orang ini bisa melewatkan setiap frame filmnya ?, maksudku adalah karena Metropolis lebih besar dari sebuah masterpiece, jauh lebih besar. Dan ini menjadi lebih rusak kemudian, ketika film selesai, hampir setengah penonton begitu saja keluar Hall, sampai-sampai sang pembawa acara mengingatkan mereka lewat mikrofon, bahwa acara belum selesai. Saya akan terus terang, itu sangat bodoh dan tidak menghargai, rewarding kepada sang konduktor-pun hilang kesakralannya, alasannya adalah, orang-orang antri untuk keluar pintu. Semoga tidak terjadi lagi, tapi yang paling penting, semoga hal itu bukanlah pesakitan bagi sang konduktor dan anak-anaknya.

Pengalaman ini kembali membuka mata saya, kali ini lebih lebar, tentang kenapa film-film jaman dulu adalah suatu gem yang tidak hanya harus diakui pada masanya. Kita harus melihat produksi sulitnya, totalitas diimbangi dengan garapan-garapan musik yang tanpa kita sadari megah, cerita Metropolis tentang dunia masa depan yang bobrok dengan kompleksitas yang dikandungnya tidak bisa ditandingi, naskahnya mungkin masih terasa begitu baru dan inventif walau 1 abad kemudian. Malam itu saya berterimakasih kepada semuanya, walaupun tidak sempat mengatakannya langsung, penayangan Metropolis bersama Film Orchestra Babelsberg adalah pengalaman mahal yang gratis.

*rangkaian acara Jerman Fest berlanjut hingga desember, salah satu acara lainnya adalah German Cinema yang dilaksanakan pada 11-20 September di 7 Kota di Indonesia

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick