Feature – When She Is Not Real

Film-film ini mengantarkan pengalaman romansa yang tak pernah kita temui sebelumnya

re-what-if

Film menjadi wadah ide berkembang melebihi batas realita. Bahkan beberapa teknologi modern lahir lewat inspirasi film-film terdahulu yang dengan sukses, mencoba menggambarkan keadaan masa depan yang serba abu-abu. Seperti Star Trek yang menginspirasi lewat komunikasi video CAM, atau ketika Back To The Future mengilhami masa modern untuk menciptakan Hoverboard.

Sains Fiksi telah merasuk kesegala aliran film, tak terkecuali Romance. Banyak sineas ternama telah memberikan suatu experiences lewat perpaduan drama dengan science fiction yang mujarab. Hasilnya, adalah suatu studi psikologi yang dalam dan mengena.

Suatu premis baru kian populer : Bagaimana jadinya jika ada cerita tentang laki-laki yang jatuh cinta dengan perempuan yang tidak nyata. Berikut ini adalah resensi kecil dan rekomendasi kami tentang bauran drama romansa dan sains fiksi yang penuh dengan perasaan dan emosi yang tentu, kebanyakan, terasa bittersweet.

———————————-

re-what-if-mip

Midnight In Paris (2011)

Gil (Owen Wilson) sedang berlibur di Paris bersama tunangannya untuk menghabiskan waktu sebelum menikah mereka. Suatu malam, kebetulan ketika ia sendiri karena sebelumnya berpisah dari rombongannya, Gil tiba-tiba memasuki suatu universe dimana waktu berputar mundur di tahun 1920-an,  bertemu orang-orang penting di dunia seni saat itu seperti Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway hingga Salvador Dali. Ia senang luar biasa, tak mempercayai matanya sendiri. Namun ia sadar itu bukan mimpi. Dan dilema datang ketika ia bertemu Adriana (Marion Cottilard) dan jatuh cinta padanya. Mana yang ia pilih, tetap pada masa kini dan loyal kepada tunangannya, atau pergi ke masa lalu bersama Adriana ?.

Midnight in Paris, adalah salah satu film Woody Allen yang selalu melekat lewat kisah fantasinya yang mewah dan unik bersama elemen historis yang digenggamnya. Begitupun Allen mencoba menggugah kesan yang serupa lewat film-film nuansa whimsy seperti Magic in MoonlightMidnight In Paris masih terlalu jauh diatas.

—————————————————–

re-wha-if-her

Her (2013)

Her menyuguhkan setting tempat dystopian future dimana teknologi berbicara banyak dalam memudahkan pekerjaan manusia. Dan ini adalah Ini adalah kisah seorang paruh baya bernama Theodore (Joaquin Phoenix) yang jatuh cinta dengan suatu Operating System bernama Samantha (suara diisi oleh Scarlett Johannson). Film ini kuat dengan studi karakternya yang sensitif dibarengi tempo yang pelan dan syahdu. Her mampu menuliskan kisah cinta paling indah tanpa ada perempuan disana untuk mencium pasangannya, berpelukan bersama untuk menyatakan rasa cinta mereka. Kekuatan film ini, entah itu secara visual atau dialog-dialog didalamnya, mengundang ketenangan dan rekreasi jiwa yang begitu warm lewat kisah cinta tak wajar, dan pada saat yang sama, tak terlupakan. Her adalah melodi, puisi, lukisan dan kadang kau lupa bahwa itu hanyalah sebuah film.

—————————————————–

re-what-if-eternal

Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004)

 Mengusung konsep fiksi ilmiah yang begitu rumit, bagaimana jika di masa depan ada suatu instansi servis yang lewat prosedur tertentu, memungkinkan untuk membuatmu bisa benar-benar melupakan seseorang yang pernah kau kenal, atau bahkan yang kau cintai. Ini adalah kisah Joel (Jim Carrey) yang mengetahui bahwa pacarnya, Clementine (Kate Winslet) telah menghapus dirinya dari memorinya. Sakit hati, Joel melakukan prosedur yang sama, namun ketika ia telah terlanjur masuk dalam ‘terapi melupakan’ sang kekasih dimana ia dibius untuk tetap terjaga , ia menyadari bahwa ia masih mencintai Clementine dan berusaha memperbaiki keadaan ini, di alam bawah sadarnya, bersama sosok Clementine yang tentu saja sama sekali tidak nyata disana.

Kisah cinta tak biasa film ini terkandung lewat kisah dua dimensi, di dunia nyata, dan alam bawah sadar Joel, dan digarap oleh timeline film non-linier yang begitu cerdas. Cerita Joel dan Clementine menjelaskan judul film ini sendiri, bahwasannya, seberapa payah kita mencoba melupakan seseorang yang kita cintai, ia akan selalu terpercik di pikiran, seperti cahaya abadi.

—————————————————–

 re-what-if-latr

Lars and The Real Girl (2007)

Ryan Gosling memerankan Lars Lindstrom yang  terkenal pendiam, enggan bersosial dan lebih suka untuk tetap tinggal di garasi daripada berumah dengan kakaknya. Keadaan memburuk, ketika suatu hari Lars yang tiba-tiba riang memperkenalkan sebuah boneka plastik yang ia anggap sebagai pacarnya kepada kakaknya. Psikiater menganggap bahwa Lars sedang terjebak dalam suatu delusi, dimana tidak ada pura-pura dibalik kelakuan Lars. Kisah baru berlanjut ketika orang-orang dekat Lars, setuju untuk mengganggap bahwa sang boneka sebagai manusia, memperlakukannya selayaknya manusia, demi kebaikan Lars. Apakah pada akhirnya ia akan sembuh, atau justru selamanya terjebak dalam delusi walaupun itu artinya ia bisa bahagia ?

—————————————————–

re-what-if-ruby

Ruby Sparks (2012)

Calvin Weir-Fields (Paul Dano), seorang novelis yang tengah stress bermimpi tentang seorang gadis yang membuatnya kepincut dalam sekejap. Ia tergugah untuk menulis kisah mimpinya ketika terbangun, mendeskripsikan ciri dan watak sang gadis pujaan bernama Ruby (Zoe Kazan) lewat ketikan-ketikan typewritter-nya. Esok hari, secara ajaib Calvin bertemu dengan sang gadis dalam dunia nyata, dengan karakter yang persis seperti yang ia tuliskan. Calvin memulai kisah cinta yang mungkin paling ideal, karena dengan typewritter-nya, ia bisa merubah segala sifat Ruby dalam sekejap. Namun, apakah Calvin bisa seterusnya bahagia, dengan mengetahui bahwa Ruby tidak senyata yang ia pikirkan ?. 

—————————————————–

re-what-if-ex-mac

Ex Machina (2015)

Ex Machina memang science fiction, tapi dalam hubungannya terhadap konteks yang telah kita bicarakan, film ini sebenarnya bukan atau bahkan sama sekali tidak cocok dibilang sebagai romansa. Namun dilema Caleb (Domnhall Gleeson) patut di-highlight saat ia harus memutuskan untuk berbuat apa ketika ada perasaan dari dalam dirinya kepada makhluk artifisial dengan kecerdasan buatan, perempuan namun tidak lebih dari robot, bernama Ava (Alicia Vikander) ketika ia sedang menjalani suatu tes turing (kau bisa cari definisinya sendiri). Ex Machina sejatinya adalah kisah thiller-mystery yang provokatif dan menegangkan. Awas jika terlalu berharap pada kisah cintanya, film ini akan seperti racun terhadap ekspektasi semacam itu.

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick