Feature – 6 War Movies You Should See

Menyambut Dunkirk, film tentang perang dunia kedua yang esok hari rilis. Mari kita melakukan pemanasan dengan tenggelam dalam menakutkannya perang.

feature war

Film tentang perang umumnya dinilai lewat dua hal yang ia bawa, seberapa niatnya sang filmmakers dalam merepresentasikan adegan perang, dan seberapa akuratnya dia dengan kisah asli yang diusung. Yang paling umum adalah perang dunia satu dan perang dunia dua, setting tempatnya bisa ditengah medan perang atau dipinggiran perbatasan kamp. Dan tokoh utamanya bisa seorang kopral atasan, prajurit heroik, petugas dibalik layar ataupun masyarakat sipil biasa yang tak berdaya. Satu yang jelas, perang adalah suatu gambaran mengerikan dan menakutkan karena sodorannya adalah gambaran kematian yang bertubi-tubi, mengingatkan kita bahwa hal seperti ini tak boleh terulangi lagi. Berikut ini adalah 6 film tentang perang rekomendasi Rating Everywhere.

——————————————————————————————————

re fe inglo

1. Inglorius Basterd (2009)

Tolong maafkan, tapi Inglorius Basterds adalah film Quentin Tarantino dimana kau tahu, seluruh filmnya sama-sama bloody dan funny pada waktu yang bersamaan. Inglorious Basterds sangat kuat dengan persona para karakternya yang terbagi dari beberapa kewarganegaraan yang sedang berseteru pada situasi perang dunia 2 saat itu. Para berandal Amerika (Diperankan oleh Brad Pitt dan kawan-kawan) melawan keparat licik Nazi Jerman (diperankan oleh Christoph Waltz dan anak buahnya), ditambah suguhan karakter-karakter Italia dan Perancis. Hati-hati filmnya sangat semena-mena dan bahkan menjadikan ‘kepala yang dipukul bat baseball’ sebagai bahan lelucon. Disini, Adolf Hitler mati konyol.

————————-

re fe piani

2. The Pianist (2002)

Wladyslaw Szpilman hanyalah seorang pianis dengan identitas Yahudi Polandia yang sebenarnya hanya ingin hidup damai, hingga Nazi menguasai dunia termasuk dunianya. Alih-alih pekerjaannya, keluarganya pun tersisihkan, ia harus lari dan menetap ditempat yang berbeda-beda setiap hari. Film Biografi arahan Roman Polanski ini menggambarkan bahwa tidak hanya prajurit, namun menjadi masyarakat sipilpun adalah perjuangan tidak mudah ketika negaramu sedang diserang oleh kekuatan supermasif yang menindas. The Pianist menggambarkan luka-luka perang, dimana saat itu semua orang berjuang untuk makan, berteduh dan bertahan hidup.

————————-

re fe imitat

3. The Imitation Game (2014)

Benedict Cumberbatch memerankan Alan Turing sebagai legenda hidup milik Britania Raya. Morten Tyldum mengisahkan lika-liku kehidupannya yang penuh cobaan psikologis yang dialaminya sebagai orang yang luar biasa cerdas dan homoseksual. Ini adalah ketika negara membutuhkanmu dan tidak menginginkanmu pada saat yang bersamaan. The Imitation Game menawarkan kehebatan kecerdasan yang mampu menaklukan sebuah kekuatan besar Jerman, yang saat itu dibendung oleh Alan Turing ketika ia menciptakan Mesin Turing yang bisa memecahkan kode rahasia. Turing melakukan semuanya tanpa turun ke medan perang, tapi apa yang dilalui semasa hidupnya, mungkin sama beratnya.

————————-

re saving

4. Saving Private Ryan (1998)

Saving Private Ryan adalah salah satu film paling ikonis dalam filter film perang dan film Steven Spielberg. Dengan durasi hampir tiga jam, Spielberg sepertinya sudah menggambarkan semuanya tentang perang, tawa dan dukanya. Diawali dengan adegan panjang mengenai Invasi Normandia yang gila-gilaan dipersembahkan, penuh luka dan organ yang mencuat kemana-mana, salah satu yang terbaik dan memualkan pada waktu yang sama. Saving Private Ryan memiliki cerita menggugah, bahkan dari sinopsisnya, yakni cerita tentang tentara Amerika yang baru saja menyelesaikan tugas perangnya di Perancis, Kapten Miller (Tom Hanks) harus menerima kabar baru dari Amerika, kabar mengenai seorang ibu yang mendapati berita bahwa 3 dari 4 anaknya telah terbunuh saat perang. Miller dan timnya mendapat tugas perang dan sosial baru, ia harus menyelamatkan serang perwira bernama Ryan, satu-satunya anak sang Ibu yang masih hidup, untuk dibawa pulang, entah dimana kini dia, di suatu tempat di perbatasan Perancis sana.

————————-

re grave of

5. Grave of The Fireflies (1988)

Grave of The Fireflies sudah diakui para kritikus, Roger Ebert dan Chicago-Sun Times menganggapnya sebagai satu film perang terbaik dan paling powerful sepanjang sejarah. Cerita tentang kakak-beradik Seita dan Setsuko yang hilang arah, dan harus bergerilya berlari-larian ditengah panasnya perang yang saat itu melanda Jepang pada bulan-bulan akhir perang dunia kedua. Perang tidak menyisakan apa-apa bagi mereka, tidak orang tua dan tempat tinggal. Seita menggendong Setsuko kemana-mana, memikirkan apa yang hari ini bisa mereka makan. Filmnya tidak terlalu banyak dialog kecuali suara bom-bom akibat misil yang diluncurkan dari langit, juga teriakan orang-orang sedang kocar kacir. Grave of the Fireflies bagiku adalah film perang yang paling memilukan. Isao Takahata menunjukkan bahwa perang sangat keji, digarap lewat animasi, namun film ini menyisakan bekas yang betul-betul nyata.

————————-

RE RIVER KWAI

6. The Bridge on The River Kwai (1957)

Sebagai puncak rekomendasi adalah film klasik The Bridge on The River Kwai, film yang diagungkan dan dipuji dimana-mana. Pagelaran Academy Awards ke-30 menyebut filmnya begitu signifikan secara kultural, historikal, dan estetika, serta menyabet tujuh piala pada saat itu. Menggambarkan suatu rangkaian adegan dan proses yang lama dan dibangun dengan sangat baik, tentang para tentara Amerika yang ingin menggulingkan jembatan sungai Kwai yang sangat itu sedang dalam proses pengerjaan oleh tentara Amerika yang tertangkap dan harus kerja paksa dibawah teriakan para Jepang. Jika dibiarkan jadi dan beroperasi, jembatan dengan rel kereta api diatasnya itu akan menjadi masalah baru bagi Amerika. Ya, film ini bersetting di tengah hutan tidak seperti film perang biasanya kau lihat, namun sepertinya kau akan menganggap bahwa ini adalah film perang terbaik juga pada akhirnya. The Bridge on The River Kwai memiliki kerangka sempurna dan kompleks dalam menceritakan kisah perencanaan perang yang klimaks diakhir.

Engineering student but movies way more than manufactures